Tampilkan postingan dengan label Burung Berkicau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Berkicau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Agustus 2017

122. IGNASIUS DARI LOYOLA

The Song of The Bird 122.

Seorang mistik abad keenam-belas, Ignasius dari Loyola, bercerita bahwa waktu ia bertobat, ia tidak tahu kepada siapa ia akan minta bimbingan. Dan Tuhan sendirilah yang kemudian mengajarnya, seperti seorang guru mengajar seorang anak kecil. Akhirnya, ia sampai pada kesimpulan, andaikata seluruh Kitab Suci dimusnahkan, ia masih akan tetap berpegang pada apa yang diwahyukan di dalamnya. Sebab, Tuhan telah mengajarkan hal itu secara pribadi kepadanya.

Orang Kristen:
Saya tidak beruntung seperti Ignasius Tuhan. Celakanya, ada sedemikian banyak orang yang dapat saya mintai bimbingan. Mereka tiada henti-hentinya menggurui saya dengan ajaran mereka. Hampir-hampir tidak mendengar Engkau lagi dalam kegaduhan itu, bahkan pada waktu saya begitu ingin mendengarkanMu. Tidak pernah terlintas di benak bahwa saya dapat memperoleh pengetahuan langsung dariMu. Sebab, kadang-kadang mereka berkata: 'Kami semua adalah pengajar yang akan selalu kamu hadapi. Barangsiapa mendengar kami, mendengar Dia juga.'

Keliru, jika saya mempersalahkan mereka atau menyesalkan kehadiran mereka dalam masa kecil saya. Saya sendirilah yang harus dipersalahkan. Sebab, saya kurang kuat untuk membungkam suara mereka; tidak berani untuk mencari dan menemukannya sendiri. Hati saya kurang teguh untuk bertahan sampai akhirnya Engkau berbicara; dan iman saya terlalu lemah untuk percaya bahwa pada suatu hari, di suatu tempat, Engkau Yang akan memecahkan keheninganMu dan berbicara kepada saya.

121. WANITA SAMARIA

The Song of The Bird 121.

Wanita itu meletakkan buli-buli airnya dan pulang ke kotanya. Ia berkata kepada orang banyak: 'Marilah kita lihat orang yang mengatakan segala sesuatu yang pernah kulakukan. Mungkinkah dia ini Mesias?'

Orang Kristen:
Seorang pengajar seperti wanita Samaria! Ia tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mengajukan pertanyaan dan membiarkan orang menemukan jawabannya sendiri.

Tentu ia juga merasa tergoda untuk memberikan jawabannya, karena ia telah mendapatkannya dariMu ketika Engkau berkata kepadanya: 'Akulah Mesias. Aku, yang sedang berbicara denganmu ini.'

Semakin banyak orang menjadi murid Jesus karena apa yang mereka dengar dari mulutNya sendiri. Mereka berkata kepada wanita itu: 'Tidak lagi karena kata-katamu kami kini percaya, karena kami telah mendengarNya sendiri. Dan kami tahu bahwa sungguh Dia inilah Penyelamat Dunia.'

Orang Kristen:
Saya dulu puas belajar tentang Engkau dari tangan kedua, Tuhan. Dari Kitab Suci dan para kudus, dari para Paus dan para pengkhotbah. Saya ingin dapat mengatakan kepada mereka semua: 'Tidak lagi karena kata-katamu kini saya percaya, melainkan karena saya telah mendengar dari Dia sendiri.'

120. SIMON PETRUS

The Song of The Bird 120.

Wawancara dari Injil:

'Dan kamu,' kata Jesus, 'menurut kamu, siapakah Aku ini?'

Simon Petrus menjawab:
'Engkau Mesias, Putera Allah Yang hidup.'

Lalu Jesus berkata:
'Simon anak Yunus, sungguh engkau beruntung! Engkau tidak mengetahui hal itu dari manusia fana. Bapaku Yang ada di surga telah menyatakan hal itu kepadamu!'


Wawancara jaman sekarang:

Jesus:
'Dan kamu, menurut kamu siapakah Aku ini?'

Orang Kristen:
'Engkau adalah Mesias, Putera Allah Yang hidup.'

Jesus:
'Jawaban yang baik dan benar. Tetapi betapa engkau tidak beruntung, karena engkau mengetahui hal itu dari manusia fana. Bapaku Yang ada di surga belum menyatakan hal itu kepadamu.'

Orang Kristen:
'Benar, Tuhan, saya telah tertipu. Ada orang yang sudah menjawab semua persoalan sebelum BapaMu Yang ada di surga sempat berbicara kepada saya. Saya kagum akan kebijaksanaanMu, bahwa Engkau tidak berkata apa-apa kepada Simon, tetapi menunggu, sampai BapaMu berbicara lebih dahulu.'

119. TERIMAKASIH DAN YA

The Song of The Bird 119.

Apakah arinya mencintai Tuhan? Orang tidak mencintaiNya seperti mencintai manusia yang dapat dilihat, didengar dan disentuh. Sebab, Tuhan bukanlah seorang pribadi - sebagaimana kita mengerti arti kata ini. Ia adalah 'Yang-Tak Dikenal'. Ia adalah 'Yang-Samasekali-Lain'. Ia mengatasi semua peristilahan seperti kepriaan dan kewanitaan, pribadi maupun benda mati.

Kalau kita berkata, para pengunjung memenuhi ruangan atau suara penyanyi memenuhi ruangan, kita menggunakan kata yang sama untuk dua kenyataan yang sama sekali berbeda. Kalau kita berkata, bahwa kita mencintai Tuhan dengan sepenuh hati dan mencintai sahabat dengan sepenuh hati, kita juga menggunakan kata yang sama untuk mengungkapkan dua kenyataan yang sama sekali berbeda. Sebab, suara penyanyi tidak sungguh-sungguh memenuhi ruangan. Dan kita tidak dapat sungguh-sungguh mencintai Tuhan dalam arti kata yang biasa.

Mencintai Tuhan dengan seluruh hati berarti dengan seluruh hati mengucapkan kata 'ya' kepada kehidupan dan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Menerima tanpa syarat segala sesuatu yang direncanakan Tuhan dalam hidup ini. Mempunyai sikap yang dimiliki Jesus, ketika berkata: 'Bukan kehendakKu, melainkan kehendakMu terjadilah.' Mencintai Tuhan dengan sepenuh hati, dapat berarti mengamini kata-kata mutiara Dag Hammersjold:

Terimakasih untuk semua yang telah berlalu.
Terjadilah segala yang akan terjadi - ya, aku terima
.

Hal-hal semacam ini hanya dapat dipersembahkan kepada Tuhan. Di sini Ia tidak mempunyai saingan. Mengerti bahwa inilah artinya mencintai Tuhan, berarti juga sekaligus mengerti hal lain yang sangat penting, yakni bahwa mencintai Tuhan tidak sama dengan mencintai sahabatmu dengan sepenuh hati, hangat dan mesra.

Suara penyanyi memenuhi ruangan. Suara itu tetap menguasai ruangan tersebut, betapa pun ruangan itu penuh orang. kehadiran orang banyak tidak mengubah sesuatu pun. Yang akan mengubah situasi itu hanyalah suara lain yang menyaingi, yang mau menenggelamkan suara semula. Tuhan tetap menguasai hatimu, biarpun banyak orang telah memenuhinya. Kehadiran orang-orang itu tidak merupakan bahaya bagi cintaNya. Bahaya hanya dapat muncul dari usaha sebagian orang untuk menjauhkan engkau dari kata 'ya' yang kau ucapkan sepenuh hati terhadap semua yang direncanakan Tuhan bagi hidupmu.


118. SUARA PENYANYI MEMENUHI RUANGAN

The Song of The Bird 118.

Terdengar di luar gedung pertunjukan:

'Betapa hebatnya penyanyi tadi! Suaranya memenuhi seluruh ruangan.'

'Ya, sampai-sampai beberapa pengunjung harus keluar untuk memberi tempat pada suara penyanyi itu!'

Menggelikan! Saudara-saudari sekalian, Anda boleh tetap duduk di kursi Anda. Suara penyanyi akan memenuhi seluruh ruangan, namun tidak akan mengambil satu tempatpun.

***

Terdengar dalam sebuah bimbingan rohani:

'Bagaimana saya dapat mencintai Tuhan, seperti dianjurkan dalam Kitab Suci? Bagaimana saya dapat menyerahkan seluruh hidupku kepadaNya?'

'Lebih dahulu kau harus mengosongkan hatimu dari semua benda ciptaan.'

Menyesatkan! Jangan takut mengisi hatimu dengan orang dan barang yang kaucintai, karena cinta Tuhan tidak akan mengambil tempat dalam hatimu, seperti halnya suara penyanyi juga tidak mengambil tempat apapun dalam ruangan gedung pertunjukan.

***

Cinta tidak seperti roti. Bila aku memberikan sepotong kepadamu, maka roti yang dapat kuberikan kepada orang lain berkurang. Cinta lebih menyerupai Roti Ekaristi. Kalau aku menyambutNya, aku menyambut Kristus yang utuh. Namun, sebagai akibatnya kamu tidak menerima Kristus yang kurang utuh, melainkan menerima juga seluruh pribadi Kristus. Begitu juga dengan orang-orang yang lain.

Engkau dapat mencintai ibumu dengan sepenuh hatimu; begitu juga isterimu dan masing-masing anakmu. Anehnya, memberikan seluruh cinta kepada satu orang tidak memaksa mengurangi cinta yang dapat kauberikan kepada orang lain. Sebaliknya, mereka masing-masing mendapat lebih banyak. Sebab, jika engkau mencintai sahabatmu saja, dan orang lain tidak, maka jelas bahwa yang kauberikan itu hanyalah hati yang lemah saja. Sahabatmu itu justru akan beruntung kalau kau memberikan hatimu kepada orang lain juga.

Tuhan akan rugi, seandainya Ia menuntutmu supaya memberikan hatimu hanya kepada Dia saja. Berikanlah hatimu juga kepada orang lain, kepada keluargamu, kepada sahabat-sahabatmu. Tuhan beruntung kalau engkau mempersembahkan seluruh hatimu kepadaNya.

117. BUAH KELAPA

The Song of The Bird 117.

Seekor kera menjatuhkan buah kelapa ke atas kepala seorang Sufi.

Orang itu memungutnya, meminum airnya, memakan dagingnya dan tempurungnya dibuatnya menjadi mangkuk untuk makan.

Terima kasih atas kritikmu untukku.

116. KESALAHAN YANG MEMBAHAGIAKAN

The Song of The Bird 116.

Seorang mistik Yahudi, Baal Shem, mempunyai cara berdoa yang agak aneh, misalnya: 'Ingatlah, ya Tuhan! Engkau memerlukan aku, sama seperti aku memerlukan Engkau. Jika Engkau tidak ada, aku mesti berdoa kepada siapa? Jika aku tidak ada, siapa yang akan berdoa?'

Pikiran ini amat menggembirakanku, karena seandainya aku tidak berdosa, Tuhan tidak sempat mengampuniku. Ia memerlukan dosaku juga. Sungguh-sungguh sukacita di surga lebih besar karena seorang berdosa bertobat daripada karena sembilan puluh sembilan orang tidak perlu bertobat.

O, kesalahan yang membahagiakan! O, dosa yang harus ada! Di mana terdapat banyak dosa, rahmat Tuhan berkelimpahan.

115. KONFUSIUS, SEORANG BIJAK

The Song of The Bird 115.

Pu Shang berkata kepada Konfusius:
'Orang bijak macam apakah Anda, sehingga Anda dapat berkata bahwa Yen Hui dalam hal berterus-terang melebihi Anda, bahwa dalam hal menjelaskan sesuatu Tuan-mu Tz'u melebihi Anda, bahwa Chung Yu lebih berani dibandingkan dengan Anda, dan bahwa Chuan-sun Shih lebih terhormat daripada Anda?'

Karena sangat menginginkan jawaban, maka Pu Shang berangsur-angsur maju sampai ke tepi tikar hingga ia hampir terjatuh. 'Kalau semua ini benar,' katanya, 'mengapa empat orang ini berguru kepada Anda?'

Konfusius menjawab:
'Duduk di situ saja, nanti kukatakan kepadamu. Yen Hui bisa berterus-terang, namun ia tidak dapat menyesuaikan diri. Tuan-mu Tz'u dapat menjelaskan apa saja, tetapi tidak sanggup memberikan keputusan yang tegas-tegas 'ya' atau 'tidak'. Chung Yu tahu bagaimana bertindak berani, namun ia tidak berhati-hati. Chuan-sun Shih mudah bertingkah-laku secara terhormat, tetapi tidak bisa bersikap sederhana. Itulah sebabnya, mengapa empat orang ini masih senang belajar di bawah bimbinganku.'

Guru Muslim, Jalal ud-Din Rumi, berkata: 'Tangan yang selalu terbuka atau selalu tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tak akan pernah dapat terbang.'



114. GADIS BUDAK

The Song of The Bird 114.

Seorang raja mabuk cinta pada seorang gadis budak. Ia menyuruh memindahkan gadis itu dari rumah para budak ke istana. Raja bermaksud mengawininya dan menjadikannya permaisurinya. Tetapi aneh, gadis itu sakit keras pada saat ia dibawa ke istana.

Kesehatan gadis itu semakin memburuk. Segala macam obat telah diberikan kepadanya, tetapi sia-sia saja. Dan gadis budak itu mengalami nasib tak menentu antara hidup dan mati.

Dalam keputusasaan raja menjanjikan separuh kerajaan kepada siapa saja yang dapat menyembuhkan gadis itu. Tetapi tak seorang pun berani mengobati penyakit itu karena usaha para tabib yang paling pandai pun telah gagal.

Akhirnya datanglah seorang hakim. Ia memohon supaya diijinkan menemui gadis itu sendirian saja. Setelah berbicara dengannya satu jam lamanya, hakim itu datang menghadap raja yang dengan cemas menunggu laporannya.

'Tuanku Raja,' sembah hakim itu, 'hamba berhasil menemukan obat ampuh yang pasti akan menyembuhkan gadis hambamu itu. Hamba yakin akan kemanjuran obat ini sehingga seandainya hamba gagal, hamba bersedia kepala hamba dipenggal. Namun, obat yang hamba usulkan itu akan sungguh sangat menyakitkan - bukan untuk gadis itu, melainkan untuk Tuanku Raja.'

'Katakanlah, apa obat itu!' teriak sang raja. 'Akan diberikan kepadanya, berapa pun harganya!'

Hakim itu memandang raja penuh rasa iba dan berkata: 'Gadis itu jatuh cinta pada salah seorang hamba Tuanku Raja. Ijinkanlah hambamu itu kawin dengannya, niscaya ia akan segera sembuh.'

O, raja yang malang! Ia terlalu menginginkan gadis itu sehingga tidak bersedia melepaskannya! Ia terlalu mencintainya sehingga tidak akan membiarkannya mati!

Waspadalah terhadap cinta! Kalau engkau jatuh terperangkap olehnya, cinta itu menjadi kematian bagimu.



113. BUAH APEL YANG SEMPURNA

Nasruddin baru saja selesai mengajar, ketika seseorang dari antara orang-orang yang berkerumun mencemoohnya: 'Daripada mereka-reka teori rohani, lebih baik menunjukkan sesuatu yang praktis kepada kami?'

Pertanyaan itu membuat Nasruddin sangat kebingungan. 'Hal praktis macam apakah yang Anda minta?' tanyanya.

Senang bahwa ia sudah dapat mengecoh seorang mullah dan mengesankan orang banyak, si pencemooh itu meneruskan: 'Misalnya, tunjukkanlah kepada kami sebuah apel dari Taman Firdaus!'

Nasruddin mengambil sebuah apel dan memberikannya kepada orang itu. 'Tetapi apel ini sebagian ada kerutnya,' kata orang itu. 'Apel surga tentu serba sempurna!'

'Memang, apel surga itu serba sempurna!' kata Mullah. 'Tetapi mengingat kemampuan Anda sekarang, inilah apel yang paling mendekati apel surga yang akan pernah Anda lihat.'

Dapatkah seseorang berharap dapat melihat apel serba sempurna dengan mata yang tidak sempurna?

Atau, dapatkah seseorang berharap menemukan kebaikan pada orang lain, kalau hatinya sendiri penuh kelobaan?

112. DOMBA YANG HILANG

The Song of The Bird 112.

Sebuah perumpamaan untuk para pengajar agama.

Seekor domba menemukan lobang di pagar dan merangkak keluar lewat lobang itu. Ia begitu senang karena dapat lepas. Ia berjalan jauh dan ternyata tidak dapat menemukan jalan untuk kembali.

Kemudian ia tahu, bahwa ia dibuntuti seekor serigala. Ia lari tunggang langgang, tetapi serigala itu terus mengejarnya. Untunglah si gembala datang menolongnya. Gembala itu membawanya kembali dengan penuh kasih untuk berkumpul lagi dengan kawanannya.

Dan meskipun setiap orang mendesak untuk menutup lobang itu, namun gembala itu tidak mau melakukannya.



111. PEMBERONTAK YANG DIJINAKKAN

The Song of The Bird 111.

Ia seorang yang sulit. Ia berpikir lain dan berbuat lain daripada kami semua. Ia mempersoalkan setiap hal. Apakah ia seorang pemberontak, atau seorang nabi, atau seorang yang sakit saraf, atau seorang pahlawan? 'Siapa tahu bedanya?' tanya kami, 'dan juga peduli apa?' Maka kami pun memasyarakatkannya. Kami menyadarkannya untuk lebih peka terhadap pendapat umum dan perasaan orang lain. Kami meyakinkannya, agar ia menyesuaikan diri. Sekarang ia sudah mudah bergaul. Sudah cocok. Yang sebetulnya kami ajarkan kepadanya adalah: hidup sesuai dengan harapan kami. Kami sudah menjadikannya penurut dan mudah ditangani.

Kami mengatakan kepadanya, bahwa ia sudah mampu menguasai diri. Kami memujinya karena ia sudah berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Ia bahkan mulai memuji dirinya sendiri juga. Ia tidak mengerti, bahwa kamilah yang telah menundukkannya.

Seorang yang gagah perkasa memasuki ruangan yang penuh orang. Ia berteriak: 'Apakah di sini ada orang yang bernama Murphy?' Seseorang yang berbadan kecil maju dan berkata: 'Akulah Murphy.'

Orang yang gagah perkasa itu hampir-hampir membunuhnya. Lima tulang rusuk Murphy patah, juga tulang hidungnya; kedua matanya bengkak; ia dibanting ke lantai, kemudian diinjak-injak sampai setengah mati.

Setelah orang yang gagah perkasa itu pergi, kami heran melihat si badan kecil tertawa pada dirinya sendiri. 'Aku berhasil mengelabui tamu tadi,' katanya pelan kepada dirinya sendiri. 'Aku bukan Murphy! Ha, ha, ha!'

Suatu masyarakat yang berhasil menjinakkan para pemberontaknya, berhasil menjaga keamanannya, namun kehilangan masa depannya.


110. MENGUBAH DUNIA DENGAN MENGUBAH DIRIKU

The Song of The Bird 110.

Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya berikut ini: 'Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!'

'Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.'

'Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.' Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!'

Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya.

109. IDEOLOGI

The Song of The Bird 109.

Sungguh pedih membaca tentang kebengisan manusia terhadap sesamanya. Inilah sebuah laporan suratkabar tentang penyiksaan yang dilakukan dalam kamp konsentrasi moderen.

Korban diikat pada kursi besi. Arus listrik dialirkan dalam tubuhnya, semakin lama semakin kuat sampai akhirnya mengaku.

Algojo mengepalkan tinjunya dan menghantam telinga si kurban bertubi-tubi, sampai gendang telinganya pecah.

Seorang tahanan didudukkan di kursi dokter gigi. Kemudian dokter mengebor giginya sampai menyentuh saraf. Pengeboran berjalan terus, sampai akhirnya si korban menyerah.

Manusia pada hakekatnya bukan makhluk yang bengis. Ia menjadi bengis, kalau ia merasa tidak bahagia - kalau ia menganut suatu ideologi. Satu ideologi melawan ideologi yang lain; satu sistem melawan sistem yang lain; satu agama melawan agama yang lain. Dan manusia terhimpit di antaranya.

Orang-orang yang menyalibkan Jesus itu barangkali bukan orang yang kejam. Mungkin sekali mereka itu suami yang penuh pengertian dan ayah yang mencintai anak-anaknya. Mereka bisa menjadi begitu kejam demi mempertahankan suatu sistem, ideologi atau agama.

Seandainya orang-orang beragama itu selalu lebih mengikuti suara hati mereka daripada logika agamanya, kita tidak perlu menyaksikan pengikut-pengikut bidaah dibakar, janda-janda terjun dalam api pembakaran jenasah suaminya dan jutaan manusia yang tidak berdosa dibantai dalam peperangan-peperangan yang dilancarkan atas nama agama dan Allah.

Kesimpulannya: Jika engkau harus memilih antara suara hati yang penuh belaskasih dan tuntutan ideologi, tolaklah ideologi tanpa ragu-ragu. Belaskasih tidak bersifat ideologis.



108. KEBENCIAN KEAGAMAAN

The Song of The Bird 108.

Seorang wisatawan berkata kepada pemandunya: 'Saudara dapat berbangga atas kota saudara. Saya amat terkesan melihat begitu banyak gereja di kota ini. Tentu umat di sini sangat mencintai Tuhan.'

'Entahlah,' jawab si pemandu dengan sinis, 'mungkin mereka mencintai Tuhan, tetapi yang jelas mereka saling membenci setengah mati.'

Ini mengingatkanku akan seorang gadis kecil, yang pernah ditanya: 'Orang kafir itu siapa?' Ia menjawab: 'Orang kafir adalah orang yang tidak bertengkar tentang masalah agama.'

Senin, 24 Juli 2017

107. JESUS MENONTON PERTANDINGAN SEPAKBOLA

The Song of The Bird 107.

Jesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajakNya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topiNya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topiNya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: 'Saudara berteriak untuk pihak yang mana?'

'Saya?' jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. 'Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.'

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: 'Ateis!'

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. 'Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan,' kata kami. 'Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.'

Jesus mengangguk setuju. 'Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,' kataNya. 'Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.'

'Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu,' kata salah seorang di antara kami dengan was-was. 'Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.'
'Ya - dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama,' kata Jesus sambil tersenyum kecewa.

106. DISKRIMINASI

The Song of The Bird 106.

Aku langsung kembali menuju ke 'Pasar malam agama.' Kali ini aku mendengar pidato imam agung agama Balakri. Kami diberitahu bahwa nabi Balakri adalah al-masih yang dilahirkan pada abad kelima di 'Tanah Suci Mesambia'.

Malam itu aku menghadap Tuhan lagi. 'Engkau sungguh-sungguh melakukan diskriminasi, bukan begitu, Tuhan? Mengapa abad kelima itu abad yang mulia, dan mengapa Mesambia harus menjadi tanah suci? Mengapa Engkau melakukan diskriminasi terhadap abad lain dan negeri lain? Apa kesalahan abadku? Dan apa kesalahan negeriku?'

Tuhan menjawab:
'Hari raya itu suci, karena menunjukkan bahwa semua hari sepanjang tahun itu suci. Dan tanah suci itu dikatakan suci, karena menunjukkan bahwa semua tanah sudah disucikan. Demikian pula Kristus dilahirkan untuk menunjukkan bahwa semua orang adalah putera-puteri Allah.'


105. PASAR MALAM AGAMA

The Song of The Bird 105.

Aku dan temanku pergi ke 'Pasar malam agama.' Bukan pasar dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya, propagandanya pun sama hebatnya.

Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi.

Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Mohammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.

Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko masuk neraka.

Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: 'Apakah pendapatmu tentang Tuhan?' Jawabnya: 'Rupanya Ia penipu, fanatik dan bengis.'

Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: 'Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan jelek kepadamu?'

Tuhan berkata: 'Bukan Aku yang mengadakan 'Pasar malam agama' itu. Aku bahkan merasa malu untuk mengunjunginya.'


104. MOHON HATI YANG DAMAI

The Song of The Bird 104.

Dewa Vishnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata: 'Sudah kuputuskan, aku akan memberikan tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.'

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta, agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

Tetapi ketika teman-teman dan sanak-saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya, dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa dulu ia buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?

Maka ia memohon kepada dewa, agar menghidupkan isterinya kembali. Kini permohonannya tinggal satu lagi. Ia bermaksud tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, karena ia sudah tidak akan sempat memperbaikinya lagi. Ia bertanya kemana-mana. Beberapa kawannya menasehatinya, agar ia minta diluputkan dari kematian. Tetapi apa gunanya tetap hidup, kata kawannya yang lain, kalau badannya tidak sehat? Dan untuk apa sehat, kalau tidak punya uang? Dan apa gunanya uang kalau tidak punya sahabat?

Tahun demi tahun telah lewat dan ia belum juga dapat memutuskan apa yang harus dimintanya: hidup, kesehatan, kekayaan, kekuasaan atau cinta. Akhirnya ia menyerah dan berkata kepada dewa: 'Berkenankanlah kiranya Dewa memberi nasehat, apa yang sepantasnya saya minta?'

Melihat kebingungann orang itu, Vishnu tertawa dan berkata:
'Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi dalam hidupmu.'

103. INTAN

The Song of The Bird 103.

Seorang sannyasi sampai ke perbatasan desa, lalu duduk di bawah sebatang pohon untuk tidur di sana semalaman. Tiba-tiba seorang penduduk desa datang berlari-lari kepadanya dan berseru: 'Batu itu! Batu itu! Berikan padaku batu permata itu!'

'Batu permata apa?' tanya sannyasi.

'Tadi malam Dewa Shiva menampakkan diri dalam mimpiku,' kata penduduk desa itu. 'Ia berkata kepadaku, jika aku pergi ke perbatasan desa di waktu senja, aku akan bertemu dengan seorang sannyasi. Ia akan memberiku sebuah batu permata. Lalu aku akan menjadi kaya-raya selama-lamanya.'
Sannyasi itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah batu. 'Barangkali inilah yang dimaksudkannya,' katanya sambil menyerahkan batu itu kepada penduduk desa. 'Batu itu kutemukan di jalan kecil di hutan beberapa hari yang lalu. Tentu saja Anda boleh memilikinya.'

Orang desa memandang batu itu penuh rasa kagum. Batu itu adalah intan. Barangkali intan terbesar di dunia, sebesar kepala manusia.

Ia menerima intan itu lalu pergi. Semalaman ia gelisah, tidak dapat tidur. Pagi harinya, waktu fajar menyingsing, ia membangunkan sannyasi itu.

Katanya kepadanya:
'Berilah aku kekayaan, yang membuat Anda rela menghadiahkan intan itu dengan begitu mudah.'